Blogroll

Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Minggu, 22 Mei 2016

IKAN BUNTAL (PUFFER FISH), IKAN NIKMAT YANG BERACUN



IKAN BUNTAL (PUFFER FISH), IKAN NIKMAT YANG BERACUN
Oleh dr. Imannurdin Abdillah (Kepala LABKESDA Lumajang)


 
dr. IMANNURDIN ABDILLAH (KEPALA LABKESDA LUMAJANG)



IKAN BUNTAL

Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah pangan, karena itu kebutuhan
tersebut harus dapat dikonsumsi secara aman. Namun demikian ternyata beberapa sumber bahan pangan juga dapat menjadi sumber petaka bagi manusia, karena pangan juga merupakan salah satu jalur utama yang berpotensi menimbulkan masalah serius jika mengandung racun akibat cemaran mikroba, bahan kimia, bahan berbahaya dan racun alami yang memang terdapat dalam pangan tersebut.
Salah satu hewan yang diminati karena kelezatannya dan banyak diberitakanadalah ikan buntal (puffer fish). Mungkin banyak orang Indonesia belum
akrab dengan ikan buntal, namun ikan buntal sangat digemari di Jepang, dikenal sebagai ikan Fugu, konon kelezatannya mengalahkan kelezatan ikan lainnya. Tidak semua orang dapat menyajikan ikan ini secara aman, hanya seorang koki yang terlatih dan “bersertifikat”lah yang tahu bagaimana menyiapkan dan memasak ikan ini dengan benar. Cara penyiapan yang salah dapat menyebabkan keracunan yang fatal.
Ikan buntal adalah anggota dari ordo Tetraodontiformes. Ikan ini banyak ditemukan di perairan Indo-Pasifik. Nama tetraodontiformes berasal dari morfologi gigi ikan ini, yaitu memiliki dua gigi besar pada rahang atas dan bawahnya yang cukup tajam. Dalam keadaan tenang ikan ini tampak layaknya ikan lain. Namun dalam keadaan terancam tubuhnya akan mengembang hingga 3 kali lipat normal dan diliputi oleh “duri” yang dapat menakuti predatornya.

Apa Yang Terjadi Pada Keracunan Ikan Buntal?
Ikan buntal mengandung neurotoksin yang poten yaitu tetrodotoksin (TTX).
Racun ini diperkirakan disintesis oleh bakteri atau dinoflagellata species yang berhubungan dengan ikan buntal. Bagian tubuh yang dinyatakan mengandung racun TTX ini adalah hati, ovarium, kulit, dan usus halus.
Tingkat toksisitas dari racun ini adalah musiman, oleh karena itu ikan ini disajikan di Jepang hanya dari bulan Oktober hingga Maret. Tetradotoksin adalah racun yang tahan panas (kecuali dalam suasana alkali) dan merupakan racun non-protein yang larut dalam air. Tetradotoksin adalah molekul organik, kecil, heterosiklik yang bekerja langsung pada pompa natrium aktif di jaringan saraf. Racun ini menghambat difusi natrium melalui pompa natrium, sehingga mencegah depolarisasi dan terbentuknya aksi potensial dari sel saraf. Racun ini bekerja pada sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi (contoh saraf otonom, motorik dan sensorik); racun ini merangsang kemoreseptor serta mendepresi pusat pernafasan dan pusat vasomotor di medulla oblongata.
(A)   (B)
Gambar.1.Dalam keadaan normal (A) dan mengembang (B)

Perjalanan Penyakit
Gejala awal timbul 15 menit hingga beberapa jam pasca paparan dengan makanan yang mengandung tetrodotoksin. Bahkan pernah dilaporkan gejala inisial muncul 20 jam pasca paparan.
Gejala awal meliputi parestesia bibir dan lidah, diikuti parestesia dan baal di daerah wajah dan tungkai.
Kemudian dilanjutkan oleh salivasi, mual, muntah dan diare disertai nyeri perut.
Disfungsi motorik disertai kelemahan, hipoventilasi (mungkin merupakan akibat dari disfungsi sistem saraf pusat dan tepi), kemudian diikuti oleh kesulitan bicara. Ascending paralysis muncul dalam 4 hingga 24 jam kemudian. Paralisis tungkai timbul sebelum paralisis bulbar, yang kemudian diikuti oleh paralisis otot-otot pernafasan. Refleks tendon dalam (deep tendon reflex) tidak terganggu pada tahap awal paralisis.
Akhirnya, disfungsi jantung dengan hipotensi dan disritmia (bradikardia), disfungsi SSP (koma) dan kejang mungkin terjadi. Korban yang mengalami keracunan akut berat dapat mengalami koma yang dalam, pupil non reaktif, henti nafas, dan hilangnya seluruh refleks batang otak.
Kematian dapat terjadi dalam 4 hingga 6 jam. Kematian terjadi akibat paralisis otot-otot pernafasan dan gagal nafas.
Dari pemeriksaan fisik dapat ditemukan:
Hilangnya fungsi saraf sensorik dan motorik.
Ascending paralysis dan depresi pernafasan.
Sianosis disertai gagal nafas.
Hipotensi dan disfungsi otot jantung.
Gangguan irama jantung, terutama bradikardia, blok atrioventrikular, dan bundle-branch block.
Gangguan saluran pencernaan tidak terlalu menonjol, hanya muntah dan nyeri abdomen.

Apa Yang Harus Dilakukan Jika Terjadi Keracunan Ikan Buntal?
Jika ditemukan kasus keracunan akibat mengkonsumsi ikan buntal, segera bawa korban ke rumah sakit dengan fasilitas ICU untuk segera mendapatkan pertolongan. Oleh karena gejala seperti di atas akan muncul dalam 6 jam, namun dapat saja tertunda 12 hingga 20 jam.

Tindakan di Unit Gawat Darurat:
Bebaskan dan amankan jalan nafas (cegah aspirasi)
Berikan infus nomal saline (NaCl 0,9%) atau kristaloid dan buka jalur vena untuk pemberian obat-obatan
Keluarkan racun dari saluran pencernaan dengan melakukan bilas lambung dengan arang aktif (dengan atau tanpa katartik), hati-hati akan kemungkinan terjadinya aspirasi dan trauma pada esophagus.
Monitor tanda vital dan berikan oksigenasi yang adekuat.
Fokus terapi berikutnya adalah fungsi jantung hingga toksin telah tereliminasi seluruhnya dari tubuh.
Tidak ada antidot spesifik yang pernah dicobakan pada manusia.

Prognosis:
Rasio mortalitas hingga saat ini dinyatakan (50-60)% walau dengan perawatan intensif yang baik.
Gejala mungkin menetap hingga beberapa hari, bahkan pada kasus yang tidak terlalu berat.
Salah satu laporan menyatakan bahwa jika korban bertahan dalam 24 jam pertama maka prognosisnya akan baik.

Daftar Istilah:
􀂙 Ascending paralysis: paralisis bertahap dimulai dari tungkai bawah lalu naik ke bagian tubuh lain.
􀂙 Bradikardia: menurunnya frekuensi denyut jantung.
􀂙 Blok atrioventrikular: sejenis gangguan hantaran listrik jantung yang hambatannya terletak pada jaringan perbatasan atrium dan ventrikel (baik di nodus atrioventrikuler, berkas his atau cabang-cabangnya).
􀂙 Bundle-branch block: sejenis gannguan hantaran listrik jantung dimana salah satu ventrikel terangsang lebih dahulu disbanding yang lain karena tidak adanya hantaran pada salh satu cabang berkas his.
􀂙 Paralisis: kerusakan atau gangguan fungsi motorik dikarenakan adanya kerusakan pada mekanisme saraf atau otot.
􀂙 Prognosis: perkiraan keadaan akhir yang mungkin terjadi akibat serangan suatu penyakit.




Pustaka:
1. Olson, Kent. Poisoning and Drug Overdose, 4th ed. McGraw Hill, New York, 2004. p 205-208.
2. Food and Drug Association, Center for Food Safety & Applied Nutrition, Bad Bug Book: Tetrodotoxin. June 14th, 2006.
3. International Program on Chemical Safety, Biotoxins, aquatic (marine and fresh water).
4. Summers, Adam. American Museum of Natural History: Biomechanics. October, 2001.
5. Isbister, Geoffrey K., Son, Julie., Wang, Frank. The Medical Journal of Australia, Puffer fish poisoning: a potentially life-threatening condition. September, 2002.
6. Benzer, Theodore. eMedicine: Toxicity, Tetrodotoxin. February 17th, 2005.
    

0 komentar :

Posting Komentar